“Club malam?”Suara Dirga nyaris tercekat ketika mobilnya berhenti tepat di depan gedung berlantai dua dengan lampu-lampu neon menyala terang. Dentuman musik bahkan sudah terdengar samar dari luar, bergetar sampai ke kaca mobil.“Nad,” lanjutnya sambil menoleh cepat ke arah Nadine, alisnya berkerut dalam. “Kamu serius mau ke sini?”“Iya,” jawab Nadine singkat, menatap lurus ke depan. Nada suaranya tenang, tapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang jauh dari kata baik-baik saja. “Aku serius.”Dirga menghela napas panjang, tangannya masih mencengkeram setir.“Dari sekian banyak tempat, kenapa harus di sini? Kalau kamu cuma mau nenangin diri, banyak tempat lain yang lebih—aman.”Nadine menoleh. Tatapannya menantang, namun di balik itu ada kelelahan yang dalam.“Aku udah dua puluh lima tahun, Ga,” ucapnya pelan. “Selama ini hidup aku terlalu datar. Terlalu banyak aturan. Terlalu banyak nahan diri.”Ia tersenyum kecil, getir.“Sekali ini aja… aku pengin ngerasain jadi anak muda beneran.”Di
閱讀更多