“Mba Clara... Tunggu Mba... Mba...” Nadine berlari kecil menyusul Clara ke arah pintu, langkahnya goyah karena tubuhnya masih gemetar.“Mba Clara… tunggu…” panggilnya dengan suara serak, air mata mengaburkan pandangan. “Mba, dengerin aku dulu, please…”Namun Clara sama sekali tidak menoleh. Langkahnya justru semakin cepat, pintu kamar dibuka dengan kasar lalu dibanting keras hingga suara dentumannya menggema.“Nggak, Mba… jangan pergi…” Nadine terisak, tangannya terulur sia-sia ke udara kosong.Dirga menyusul dari belakang, wajahnya penuh cemas. “Nad, cukup… tenang dulu!” ucapnya sambil mencoba memegang bahu Nadine.Tapi Nadine menepis tangan itu, air matanya jatuh semakin deras. “Semua salah aku, Ga… semua salah aku…” suaranya patah-patah. “Aku nggak mau Mba Clara salah paham, aku nggak mau dianggap pelakor, Ga. Kita harus jelasin semuanya!”“Nadine... Tenang!” Dirga berusaha menahan suaranya tetap stabil.“Gimana aku bisa tenang? Mba Clara—” Nadine memotong dengan napas tersengal.“
Read more