LOGIN(AREA DEWASA!!!) Pernikahan Nadine dan Rhevan tak berjalan mulus. Selama lima tahun bersama Nadine tak pernah mendapatkan kepuasan batin ketika bercinta dengan suaminya. Tidak hanya itu, sikap kasar dan acuh sang suami juga menambah luka dalam hatinya. Disaat Nadine mulai jengah dengan pernikahannya, muncul Dirga— tetangga barunya yang berstatus duda. Pria tampan bertubuh sixpack yang selalu membuat Nadine terbayang-bayang akan pesonanya yang menggoda. "Pejamkan matamu dan rasakan, Nad! Milik siapa yang lebih membuatmu nikmat? Milikku atau suamimu?" — Dirga (26 tahun)
View More"Yah— kamu benar." Dirga menegakkan punggungnya, seolah baru tersadar pada satu kenyataan yang sengaja ia kesampingkan. Gerakannya refleks—menjaga jarak saat Nadine mulai menyebut nama yang sama-sama mereka hindari. "Aku lupa kalau masih punya Clara." Kalimat itu jatuh pelan, tapi cukup untuk menghantam. Nadine meremas ujung kemejanya sendiri di bawah meja. Jemarinya mengerut, menahan sesuatu yang mengganjal di dada. Ia benci saat harus mengingat fakta menyebalkan itu—fakta yang selalu berhasil mengembalikan jarak di antara mereka. "Apa kamu cemburu?" Dirga menoleh. Nada suaranya terdengar ringan, nyaris menggoda, namun matanya mengamati setiap perubahan kecil di wajah Nadine. "Kalau aku bilang iya, apa semua bisa merubah kenyataan yang ada?" Jawaban itu membuat Dirga tak kuasa menahan senyum di bibirnya. Senyum tipis—nyaris tak terlihat. Apalagi Nadine sudah terlanjur membuang muka, menatap ke arah lain seolah percakapan ini terlalu menyakitkan untuk dilanjutkan. "Nggaklah."
Akhirnya mereka berdua duduk berhadapan di meja makan bulat yang hanya cukup untuk dua orang. Meja itu sederhana, tapi pagi itu terasa hangat. Dirga baru saja selesai memasak, sementara Nadine baru keluar dari kamar mandi dengan rambut masih setengah lembap. Aroma makanan rumahan memenuhi ruangan. Dirga terlihat telaten. Ia memastikan piring Nadine terisi penuh, sendok dan garpu tertata rapi, bahkan segelas air sudah ia dorong mendekat ke sisi perempuan itu. “Makan yang banyak, Nad,” ucap Dirga sambil melirik sekilas, suaranya lembut. Nadine mengangguk kecil. “Makasih, Ga,” balasnya pelan. “Iya. Sama-sama.” Untuk beberapa detik, hanya suara alat makan yang terdengar. Nadine makan perlahan, sesekali melirik Dirga diam-diam. Tatapannya mencuri-curi, seolah sedang menimbang sesuatu di kepalanya. Hingga akhirnya, ia berhenti mengunyah. “Ga?” panggilnya ragu. “Hm?” Dirga menyahut tanpa mengangkat kepala. “Kemarin, kamu kok bisa datang tepat waktu begitu?” Gerakan tangan Dirga semp
Namun saat tengah malam— Nadine menggeliat gelisah di atas ranjang. Keningnya berkerut dalam, napasnya mulai tidak teratur. Jemarinya mencengkeram selimut kuat-kuat, seolah sedang menahan sesuatu yang tak terlihat. “J-jangan…” gumamnya lirih. Tubuhnya mulai berkeringat dingin. Rambutnya menempel di pelipis, wajahnya pucat. Napasnya tersengal, semakin cepat, semakin panik. Dalam tidurnya, Nadine terjebak dalam mimpi buruk. Kamar kos yang sempit. Suara itu. Tatapan itu. “Janga Bang... Jangan…” Nadine meronta dalam tidurnya, suaranya bergetar. “Tolong… berhenti, jangan lakukan ini…” Tangannya terangkat seolah menepis sesuatu. Tubuhnya menegang. Nafasnya mulai memburu. Air mata mulai jatuh. Dirga yang tertidur di sisi ranjang langsung terbangun. “Nad?” panggilnya pelan tapi sigap. Ia segera bangkit, duduk di tepi ranjang. Begitu melihat kondisi Nadine yang terjebak dalam mimpi buruk, seketika jantung Dirga mencelos. “Nad… Nadine, bangun!” ucapnya lembut tapi tegas. Tangannya sege
“Mmphhm...” Detik itu juga, tinju Dirga terhenti di udara. “Nad…” bisiknya, suaranya langsung berubah. Amarahnya runtuh, digantikan panik yang menghantam dada. Ia mengabaikan Yanto begitu saja. Tubuh pria itu tergeletak tak berdaya di lantai dengan kondisi terengah-engah dan setengah sadar. Dirga bangkit dengan tergesa dan berlari ke arah ranjang. Ia berlutut di samping Nadine, tangannya gemetar saat menyentuh bahu perempuan itu. “Aku di sini, Nad! Aku di sini,” ucapnya cepat, suaranya serak. Dirga bergerak cepat saat mendengar suara gumaman Nadine. Dengan hati-hati, jemarinya membuka kain yang membekap mulut perempuan itu, seolah takut menyakitinya walau sedikit. Begitu kain itu terlepas, isak Nadine langsung pecah tanpa bisa ditahan. Tubuhnya bergetar hebat. Tanpa menunggu lebih lama, Dirga segera beralih ke pergelangan tangannya. Ikatan itu dilepas satu per satu sampai akhirnya tangan Nadine bebas. Dirga langsung meraih selimut di ujung ranjang, menutupi tubuh perempuan itu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore