“Padahal Nadine juga cuma nganggep kamu temen.”Kalimat itu menggantung di udara—tajam, menyakitkan, dan terlalu jujur untuk diabaikan.Clara menghela napas pendek, lalu kembali menatap Dirga. Sorot matanya kini lebih dingin, lebih terluka.“Kenapa kamu nggak fokus aja sama orang yang beneran suka sama kamu?” tanyanya lirih.Dirga menatapnya lekat. Nada suaranya turun, serius.“Sekarang gini,” katanya pelan. “Kalau aku nerima kamu, kita pacaran, tapi pikiranku masih ke Nadine… apa kamu nggak bakal kecewa?”Clara terdiam.Pertanyaan itu seperti menampar tepat di pipinya. Bibirnya terbuka sedikit, tapi tak ada kata yang keluar. Jemarinya mencengkeram kain celananya lebih erat.Dirga melanjutkan dengan suara yang lebih lembut, nyaris iba. “Sebenarnya posisi kita sama, Cla. Sama-sama berharap cinta kita dibalas.”Ia kembali menatap Clara, mencoba membaca perasaannya.Clara tertawa kecil—kering, tanpa bahagia.“Kamu tahu nggak,” katanya lugas, tanpa basa-basi, “penolakan kamu ini bikin aku
Terakhir Diperbarui : 2026-01-28 Baca selengkapnya