Amanda menatap Rhevan lekat-lekat. Alisnya sedikit berkerut, jelas tak sepenuhnya percaya dengan jawaban barusan. Ia sudah terlalu lama bersama Rhevan untuk tidak mengenali tanda-tanda itu—napas yang lebih berat, rahang yang masih tegang, dan senyum yang terasa dipaksakan. “Mas,” panggilnya lagi, kali ini lebih pelan tapi penuh tekanan. “Aku tau kamu. Jelas kamu ada masalah.” Rhevan tidak langsung menjawab. Ia berbalik, berjalan beberapa langkah menjauh, lalu berhenti di dekat jendela. Tangannya masuk ke saku celana, bahunya tampak kaku. “Amanda,” katanya akhirnya tanpa menoleh, “ini bukan sesuatu yang penting kok. Kamu tidak perlu khawatir.” Amanda menghela napas, lalu mendekat. “Aku cuma penasaran, Mas,” ucapnya jujur. “Penasaran kenapa kamu marah? Apa ada masalah di kantor atau apa?”Rhevan masih bungkam."Ayo Mas, jujur aja!" Rhevan menutup mata sesaat. Napasnya ditarik dalam, lalu dilepaskan perlahan. “Aku ketemu Dirga tadi,” ucapnya akhirnya. Amanda tersentak kecil. “Dirga
Última actualización : 2026-01-29 Leer más