Nadine mengernyit. Tatapannya menelusuri wajah Sarah yang mendadak serius, bahkan terlalu serius untuk ukuran obrolan barusan.“Tapi apa, Mba Sarah?” tanyanya waspada. Jantungnya sempat berdegup lebih cepat. Dalam kepalanya sudah bermunculan berbagai kemungkinan—tentang Dirga lagi, tentang Clara lagi, atau tentang sesuatu yang lebih menyakitkan.Sarah diam beberapa detik. Alisnya sedikit berkerut, bibirnya terkatup rapat. Lalu tiba-tiba—“Laper nih, Mba.”Nadine auto melongo. “…Hah?”Sarah menghela napas panjang sambil memegang perutnya sendiri. “Serius, Mba. Aku laper banget dari tadi. Abis denger cerita kamu, perut aku malah bunyi-bunyi.”Keheningan sesaat langsung pecah.Nadine memandang Sarah tak percaya, lalu mendengus pelan. “Ya ampun, Mba Sarah. Aku kira apaan.”Sarah nyengir tanpa dosa. “Mba pikir aku mau ngomong hal lain, ya?”“Iya,” sahut Nadine jujur. “Mukanya serius banget soalnya.”“Lapar ini juga masalah serius, Mba,” ujarnya. “BTW, kamu mau makan apa? Kita pesen online
Última actualización : 2026-02-04 Leer más