Nadine mengerutkan kening. “Tes? Tes gimana maksudnya?”Dea juga ikut menoleh ke arah Sarah. “Iya, maksud kamu apa sih?”Sarah sedikit mendekat, suaranya diturunkan seperti sedang membahas sesuatu yang serius tapi tetap santai. “Menurutku ya,” katanya pelan, “Pak Dirga itu mungkin dari awal pengen lihat siapa yang benar-benar tulus sama dia.”Nadine terdiam.Sarah melanjutkan, “Maksudku— dia kan punya segalanya. Jabatan, uang, posisi…” Ia mengangkat bahu kecil. “Kalau dari awal dia nunjukin itu semua, pasti banyak yang deketin dia, apa karena itu?”Dea langsung mengangguk cepat. “Iya juga sih…”“Makanya,” lanjut Sarah, “dia mungkin sengaja jadi ‘biasa aja’. Biar tahu mana orang yang nerima dia apa adanya… bukan karena ada apanya.”Nadine masih diam. Wajahnya terlihat berpikir.Dea tiba-tiba nyeletuk, “Tapi kalau tesnya kayak gitu, buat Mba Nadine itu terlalu lama nggak sih?”Sarah langsung menoleh. “Ya mungkin…”“Bayangin,” lanjut Dea sambil menoleh ke Nadine, “dari SMA sampai sekaran
続きを読む