"Tapi orang kepercayaan Papa itu juga yang buat aku hancur dan perusahaan ini hancur, Pa!"Mendengar itu, tamparan keras kembali mendarat di pipi Rhevan.PLAK!!Tamparan itu membuat kepala Rhevan kembali terhempas ke samping. Beberapa detik ia hanya diam. Rahangnya mengeras. Napasnya berat, terasa panas memenuhi dada.Sementara di depannya Pak Wijaya berdiri dengan amarah yang jauh lebih besar dari sebelumnya.“Dengar baik-baik, Rhevan!” bentaknya, suaranya bergetar penuh emosi. “Jangan pernah kamu lempar kesalahan ke orang lain hanya karena kamu tidak mampu menghadapi kenyataan!”Rhevan menatapnya tajam, tapi kali ini tidak ada bantahan yang langsung keluar. Ia hanya menatap sang Papa yang tampak terengag-engah karena emosi.“Kamu bilang dia yang bikin perusahaan hancur?!” lanjut Pak Wijaya, suaranya meninggi. “Kamu pikir kamu sudah cukup teliti selama ini?!” katanya dengan nada tinggi. Pak Wijaya melangkah mendekat. Jarak mereka kini begitu dekat—tekanannya terasa menyesakkan.“Kam
Read more