Tiga hari kemudian. Pintu lift terbuka dengan bunyi ting pelan. Langkah sepatu formal Rhevan menggema di sepanjang koridor kantor, sama seperti biasanya—tegas, dingin, tanpa ragu. Beberapa staf yang melihatnya langsung menunduk hormat, tapi suasana terasa berbeda. Rhevan berjalan lurus menuju ruangannya tanpa menyapa siapa pun. Wajahnya datar, tapi garis rahangnya masih tampak tegang—seolah emosi seminggu lalu belum benar-benar hilang. Pintu ruangannya terbuka. Ia masuk, meletakkan tasnya di meja, lalu langsung duduk. Tangannya meraih tablet di sampingnya, membuka beberapa laporan yang belum sempat ia sentuh. Namun, pagi ini tidak ada yang mengetuk pintu. Tidak ada suara langkah familiar yang biasanya datang membawa jadwal hariannya. Tidak ada suara tenang yang selalu berkata, “Pagi, Pak. Ini agenda hari ini.” Alis Rhevan sedikit berkerut. Beberapa detik ia diam. Lalu, tanpa sadar, pandangannya beralih ke arah pintu masuk. Tangannya berhenti di atas layar tablet. “Pak
더 보기