Dirga berdiri di dekat jendela besar, satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Sementara tatapannya lurus ke luar, melihat hamparan kota dari ketinggian. Pintu ruangan terbuka pelan. “Pak Dirga,” suara Pak Rusli terdengar formal. Dirga tidak langsung menoleh. “Silahkan masuk, Pak!” Pak Rusli melangkah mendekat. Di tangannya ada tablet yang sejak tadi ia pegang. Wajahnya terlihat serius, tapi tidak tegang. “Ada perkembangan terbaru, Pak,” katanya. Dirga akhirnya menoleh sedikit. “Tentang Rhevan ya?” Pak Rusli mengangguk. “Iya.” Dirga berjalan santai kembali ke kursinya, lalu duduk dengan tenang. "Ada apa lagi sekarang Pak?" Pak Rusli membuka data di tabletnya. “Sejak satu jam terakhir, Pak Rhevan menghubungi beberapa pihak.” Dirga mendengarkan Pak Rusli bicara tanpa niat menyela. “Dia juga sudah menghubungi beberapa rekan bisnis. Bahkan ada beberapa nama besar yang beliau coba mintai tolong." "Tapi..." Pak Rusli menatapnya sebentar sebelum menjawab, “Semuanya menolak.” B
Ler mais