“Tunggu, Nad!” Perempuan itu refleks berhenti saat suara Rhevan memanggilnya. Nadine menoleh setengah badan, alisnya sedikit berkerut, jelas tidak antusias. “Ada apa lagi?” tanyanya singkat. Dari ekspresi wajahnya Nadine sudah terlihat jengah karena Rhevan yang tiba-tiba muncul di depannya dan jadi banyak bicara. “Kita sudah lama tidak pernah bertemu, kenapa kamu nggak meluangkan sedikit waktu untuk mengobrol denganku?” ucap Rhevan sambil melangkah mendekat setapak. “Maaf ya, aku sibuk,” jawab Nadine cepat tanpa menatapnya. “Lagi pula, aku nggak mau ada orang yang mengira kalau aku masih belum move on dari kamu.” Rhevan menarik sudut bibirnya, senyum tipis yang nyaris tidak sampai ke matanya. “Maksud kamu siapa? Manda?” Nadine tidak menjawab. Ia justru membuang muka, menatap arah lain dengan rahang mengeras. “Maafkan Manda ya,” lanjut Rhevan, suaranya sedikit diturunkan. “Dia memang sengaja ingin membuatmu cemburu.” Nadine menoleh kembali, kali ini dengan ekspresi datar. “Saya
続きを読む