Dirga mengangkat alis sedikit. “Dan sekarang?”Nadine tidak langsung menjawab. Ia menatap jemari mereka lagi. Lalu perlahan, ia mengangkat pandangannya. “Aku juga nggak tahu sekarang kita ini apa,” ucapnya jujur. “Tapi—” ia berhenti sejenak, mencari kata-kata. “Tapi aku ngerasa, kehadiran kamu sekarang itu nyata,” lanjut Nadine pelan. "Aku ngerasa semua ini, pertemuan kita, kebersamaan kita bukan kebetulan biasa."Tatapan Dirga melembut. Ia mengangkat tangan satunya, menyelipkan rambut Nadine ke belakang telinga dengan gerakan pelan. “Karena memang bukan,” ucapnya rendah.Nadine terdiam. “Ini bukan masa lalu yang kebetulan muncul lagi,” lanjut Dirga. “Ini adalah jalan takdir kita.”Jantung Nadine berdegup sedikit lebih cepat.“Apa pun ini nantinya,” lanjut Dirga pelan, “aku nggak mau lagi ngelewatin segalanya tanpa berbuat apa-apa untuk kamu.”Kalimat itu menggantung di udara. Nadine menatapnya. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi semuanya terasa terlalu rumit untuk diucapkan s
閱讀更多