“Nggak usah dibahas?” ulang Amanda, suaranya naik satu tingkat. Matanya menatap Rhevan tajam, penuh tekanan yang selama ini ia tahan. “Mas, aku yang ditelfon dan yang diancam loh,” lanjutnya, napasnya mulai tidak teratur. “Terus kamu bilang nggak usah dibahas?” Rhevan mendengus pelan. “Udah aku bilang, itu urusanku.” Amanda tertawa kecil. Tapi tawanya getir. “Ya kalau itu urusan kamu, ya beresin dong! Kenapa harus aku juga yang kena?" Rhevan tak menjawab. Dan itu justru membuat emosi Amanda semakin naik. “Lagian, kamu hutang buat apa lagi, Mas?!” suaranya meninggi. “Apa lagi yang kamu lakukan?!” Rhevan terlihat kesal. Ia meletakkan cangkir kopinya sedikit lebih keras di meja. “Aku butuh uang.” “Buat apa?” desak Amanda. Rhevan menatapnya, lalu menjawab dengan nada datar yang justru memancing emosi. “Buat minum.” Amanda menatapnya tidak percaya. “Apa?” suaranya pelan, tapi bergetar. “Iya,” ulang Rhevan santai. “Buat minum. Kenapa?” Dan saat itu juga, kesabaran Amanda benar-b
閱讀更多