"Amanda!" Rhevan melangkah mendekat satu langkah. “Kalau perusahaan itu nggak diambil alih, kalau semuanya nggak berantakan,” suaranya mulai meninggi, “aku juga nggak bakal ada di posisi ini sekarang!” Nada suaranya terdengar tajam. Frustrasi yang selama ini ia tahan, akhirnya mulai keluar. Tapi Amanda tetap tidak terpengaruh. “Alasan,” potongnya dingin. Rhevan terdiam sesaat. “Aku bosen dengar alasan kamu,” lanjut Amanda, matanya menatap lurus tanpa goyah. “Realitanya sekarang kamu nggak kerja. Nggak ada pemasukan. Dan aku yang harus nanggung semuanya.” Rhevan menghembuskan napas kasar. “Aku lagi berusaha, Manda.” “Berusaha?” Amanda tertawa kecil, sinis. “Berusaha apa? Duduk di rumah, pegang HP, nunggu keajaiban datang? Mabuk-mabukan? Begitu?!” “Cukup!” bentak Rhevan. Suara itu menggema di ruangan. Tapi Amanda tetap berdiri tegak. Tidak mundur sedikit pun. “Kalau kamu memang laki-laki yang bertanggung jawab,” lanjut Amanda tanpa menurunkan nada, “kamu nggak akan biar
Read more