“Itu takdir,” lanjutnya. “Dan bagian itu, bukan wilayah kita lagi.”Nadine menarik napas dalam. Perlahan. Dadanya yang tadi terasa sesak mulai sedikit ringan. Ia mengangguk kecil di pelukan Dirga.“Iya…” bisiknya pelan.Dirga tersenyum tipis, meski Nadine tidak melihatnya.“Tugas kita sekarang bukan melihat ke belakang,” ucapnya lagi. “Tapi fokus ke depan.”Nadine sedikit menjauh, menatap wajah Dirga.Lalu, dengan senyum kecil yang lebih hangat, Dirga menambahkan, “Kita mau nikah, Nad. Harusnya yang kamu pikirin sekarang itu hal-hal bahagia.”Nadine terdiam sesaat. Senyum kecil akhirnya muncul di bibirnya. “Kamu benar juga,” gumamnya.Dirga mengusap ujung matanya yang masih basah. “Nah, gitu dong.”Nadine tertawa kecil, meski matanya masih sedikit merah. Dirga memeluk Nadine sekali lagi dan Nadine juga membalas Dirga dengan hal yang sama. Sampai akhirnya Dirga kembali berbicara. "Sebenarnya aku kurang setuju dengan apa yang aku katakan ini, tapi sepertinya kamu mungkin lebih tenang
Read more