Begitu mobil berhenti di halaman istana, Gita tak langsung turun. Matanya masih merah, dadanya terasa kosong. David menunggu beberapa detik, lalu membuka pintu untuknya.“Kita masuk,” ucapnya pelan.Langkah Gita terasa berat, seolah setiap pijakan mengingatkan pada kata-kata yang baru saja menghantamnya. Belum sempat mereka melewati pintu utama, Dias sudah berdiri di sana, terlihat rapi, tenang, dengan senyum yang terlalu manis untuk situasi seperti ini. Di sampingnya, ibunya ikut menyunggingkan ekspresi puas yang tak berusaha disembunyikan.“Oh, kalian sudah kembali,” Dias bersuara ringan, matanya langsung tertuju pada wajah Gita yang basah air mata. “Gita, kamu kenapa? Apa yang terjadi? Kok pulang-pulang nangis?”Ibunya ikut mendekat. “Jangan-jangan kebohongannya kebongkar, ya?”Gita hanya menunduk. Tangannya mengepal. Ia ingin bicara, ingin membela diri, tapi suaranya seperti tertahan di tenggorokan.Dias menoleh pada David dan Ratu Ibu. “Yang Mulia, Sayang... aku sudah dengar. Git
Last Updated : 2025-12-15 Read more