Aula itu terlalu terang untuk disebut netral.Lampu putih menggantung rendah, memantulkan bayangan keras di wajah siapa pun yang duduk di bawahnya. Seeyana berdiri di balik pintu kaca selama beberapa detik, menunggu namanya dipanggil. Ia tidak menunduk. Ia tidak merapikan apa pun. Tidak ada yang perlu disembunyikan hari ini.Ketika pintu dibuka, suara ruangan langsung menyambut bisik-bisik, gesekan kursi, bunyi kamera yang buru-buru dimatikan. Forum itu tidak penuh, tapi cukup padat untuk terasa berat. Akademisi, pengamat kebijakan, beberapa jurnalis investigatif. Bukan kerumunan, melainkan kumpulan orang yang tahu apa yang ingin mereka cari.Seeyana berjalan ke podium.Ia tidak membawa catatan cetak. Laptopnya tetap tertutup. Yang ia bawa hanyalah ingatan yang sudah disusun rapi—bukan untuk membela diri, melainkan untuk menjelaskan proses.“Terima kasih,” katanya, suaranya datar tapi jelas. “Saya di sini bukan untuk menuduh, dan bukan un
Read more