Didengar dari ucapan Maulana, sepertinya dia ingin melakukan hal yang sama seperti yang pernah dilakukan Yansen dulu.Setelah berkata demikian, Maulana mencibir sinis, lalu mulai menarik pakaian Elaine. Seiring gerakannya, semakin banyak kulit Elaine yang terekspos. Kali ini, di dalam tatapan mata Elaine yang sebelumnya tegas, jelas muncul sedikit kepanikan.Meski Maulana berniat menghancurkan pertahanan mental Elaine, di matanya juga muncul hasrat yang sama sekali tidak disembunyikan.Kondisi Elaine memang sangat baik. Ditambah lagi identitasnya sebagai seorang direktur wanita yang cantik. Hal itu menimbulkan sensasi penaklukan tersendiri.Elaine tahu, jika dia masih tidak menyerah, Maulana pasti akan benar-benar bertindak. Meski begitu, Elaine tetap tidak mengatakan sepatah kata pun. Bahkan pada akhirnya, dia berhenti meronta. Dalam keputusasaan, air mata pun mengalir dari matanya."Elaine, ini kesempatan terakhirmu! Kamu mau telepon atau nggak?" Melihat reaksinya, Maulana memberikan
Read more