Devan mengikuti arah jari Pamela dan menoleh ke sana. Entah apa yang sedang dibicarakan Edric dengan Scarlett di sana, senyum Scarlett tampak begitu cerah.Devan sudah tidak ingat lagi, sudah berapa lama dia tidak melihat senyum seperti itu di wajah Scarlett. Dadanya terasa sedikit sesak, jantungnya pun seperti nyeri berdenyut.Namun tak lama kemudian, pandangannya perlahan beralih dari Scarlett. Dia tidak suka bersikap memaksa. Dia tahu, memaksa juga tidak ada artinya.Sama seperti di dunia bisnis, semakin dia tidak bisa melepaskan, semakin lawan tahu di mana kelemahannya dan memanfaatkannya. Sebaliknya, jika dia tampak tak peduli, lawan justru akan kelabakan.Sebelumnya dia memang ceroboh, ditambah lagi sedang sakit, pikirannya pun jadi kacau. Namun mulai sekarang, dia tidak akan membiarkan dirinya jatuh ke lubang yang sama lagi. Devan memejamkan mata sejenak, menghela napas perlahan.Vivian yang duduk di sebelahnya memperhatikan reaksinya, lalu menggigit bibirnya yang tipis. "Mumpun
อ่านเพิ่มเติม