Beranda / Historical / Bara Dendam Sang Prabu Boko / Bab 189: Pilihan Sang Silpin Agung

Share

Bab 189: Pilihan Sang Silpin Agung

Penulis: Alexa Ayang
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-25 20:55:00

Di sebuah sudut tenang yang terselimuti rimbunnya dedaunan rindang di kompleks pembangunan Bhumi Sambhara, Mpu Panukuh tampak duduk termenung di atas sebaran tikar pandan yang usang. Matanya menerawang jauh ke arah gundukan bukit tempat kelak stupa agung akan berdiri menjulang, memancarkan kearifan ke seluruh penjuru mata angin. Semilir angin pegunungan bertiup lembut, membawa aroma tanah basah sehabis gerimis dan wangi khas pahatan batu andesit yang baru saja dipahat oleh para undagi, seolah membelai kegundahan hati Panukuh.

Di sisinya, dua sahabat sekaligus pengawal setianya, Mahesa Seta dan Wulung, turut menemani dalam diam, seolah merasakan beban pikiran yang tengah dipikul oleh sang Mpu. Ketegangan di Watangan antara pengikut Walaing yang baru saja mereka lewati, disusul dengan pengangkatan dirinya sebagai Silpin Agung dengan segala implikasinya, memang meninggalkan jejak kerisauan mendalam di benak Panukuh, kerisauan yang kini ia rasakan perlu untuk dicurahkan.

"Kalian tahu," su
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 218: Tanah Suci Param Brahman

    Rakai Pikatan merasakan desir ambisi yang kian menggebu. Hatinya terpanggil untuk menyeimbangkan cakrawala spiritual Bhumi Medang. Ia mendambakan sebuah Siwagrha, kediaman suci Bhagawan Siwa, yang kemegahannya takkan lekang oleh pergiliran zaman, sebuah pencapaian yang mampu berdiri sejajar, bahkan melampaui, keagungan Sambhara Budura. Bagi sang Maharaja, candi agung ini tak hanya menjadi penanda keyakinan; ia adalah mercusuar kejayaan Sanjaya yang harus terpahat abadi dalam sejarah. Namun, langkah pertama dan terpenting adalah menemukan ‘locus sacer’ yang tepat, sebuah tanah suci nan strategis, fondasi spiritual dan material bagi mimpi besar itu.Untuk mewujudkan visi besar itu, Rakai Pikatan segera mengutus dua orang kepercayaannya, Adipati Gagak Rukma dan Wulung. Keduanya dikenal akan ketelitian, kecerdasan, dan kesetiaan mereka kepada takhta. Pagi itu, di balai agung Keraton Mamratipura yang diselimuti suasana khidmat, sang Maharaja mengemban amanat berat.

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 217: Persembahan untuk Sang Mahadewa

    Di pedalaman pegunungan Walaing, nuansa ketidakpastian mulai menyelubungi sanubari Mpu Kumbhayoni. Sosoknya yang biasanya tegap dan penuh wibawa kini terlihat sering menyendiri, termenung di puncak-puncak bukit yang berpasir. Ia kerap kali menghentikan perjalanan ritualnya di lokasi-lokasi tertinggi, di mana semilir angin gunung menyapu kuncir rambut putihnya yang sudah dipenuhi oleh kegaiban zaman, dan menatap jauh ke arah barat laut, menuju lembah subur Prambanan. Pandangannya yang sarat rindu itu menyiratkan sebuah getir yang mendalam, seolah terbelenggu di antara kewajiban leluhur dan kenyataan pahit yang kini mendominasi tanah Jawa. Berbagai laku tapa, dari ritual Tantra kuno hingga meditasi yang menguras daya pikir, seolah menjadi pelarian bagi kegalauan yang terus menghantuinya.Adiknya, Sri Gunting, seorang penasihat sekaligus sahabat yang telah menemaninya dalam berbagai pasang surut kehidupan, tidak dapat mengabaikan perubahan tersebut. Ia mengenal tabiat Mpu Kumbha

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 216: Racun di Pisowanan Ageng

    Kemenangan atas Kunara Sancaka, pengukuhan kedaulatan Bhumi Medang atas bumi Mataram, serta kelahiran sang penerus takhta yang mulia, Dyah Lokapala – seorang pangeran yang kelak dikenal dengan gelar agung Rakai Kayuwangi – seharusnya menjadi penanda bagi datangnya era kedamaian abadi bagi seluruh persada Medang. Ibu kota diselimuti suasana suka cita dan harapan, dengan upacara-upacara adat nan meriah yang silih berganti diselenggarakan sebagai bentuk syukur atas karunia Sang Hyang Widi. Namun, di balik kemegahan perayaan yang menyilaukan mata dan riuhnya genderang kemenangan, sebuah riak kegelisahan yang halus namun mendalam, bak racun yang menyusup ke dalam sari kehidupan, mulai tumbuh subur dari celah-celah di dalam tubuh wangsa Sanjaya itu sendiri, mengancam untuk meretakkan fondasi yang telah dibangun dengan susah payah.Puncak dari serangkaian perayaan dan konsolidasi kekuasaan tersebut adalah Pisowanan Ageng, sebuah pertemuan akbar yang menghimpun seluruh pembesar watak, para pa

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 215: Perayaan di Bhumi Mataram

    Bhumi Mataram berdandan, menyongsong hari besar yang terukir dalam sejarahnya. Di jantung kerajaan, kota Medang bersolek dalam kemegahan yang tak tertandingi, melampaui segala perayaan yang pernah ada. Janur kuning melengkung anggun di setiap gerbang istana, menyambut kedatangan para pembesar dari segala penjuru, para bupati dan nayaka praja, para sanak saudara, serta rakyat jelata yang berkumpul memenuhi alun-alun. Setiap hiasan, setiap untai bunga melati yang harum semerbak, seolah bercerita tentang kebahagiaan. Hari ini adalah hari ketika dua hati tulus, Wulung dan Wulan, menyatukan ikatan suci, setulus pengabdian mereka pada negara dan raja.Di pelataran utama Pendopo Ageng, Wulung berdiri gagah dalam balutan dodot kebesaran berwarna keemasan, sulaman benang perak melukis motif batik dengan simbol kekuasaan dan kebijaksanaan. Sebuah keris bertahta permata Zamrud Katon menyelinap gagah di pinggangnya, memancarkan aura ketegasan sekaligus kharisma yang mendalam. Di sampingnya, Wulan

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 214 Gugurnya Ular Syailendra

    Angin dingin menusuk tulang di lereng Candramuka, membawa serta embun beku yang merangkul setiap helai pinus dan dedaunan hutan. Kabut tebal menyelimuti area, menciptakan suasana mencekam yang seolah menahan napas, sebuah panggung alam yang murung bagi drama akhir. Di bawah komando Panglima Sanditaraparan, Gagak Rukma, pasukan elite Bhumi Medang telah mengepung posisi persembunyian terakhir Kunara Sancaka, duri dalam daging kemaharajaan yang tak kunjung layu. Strategi pengepungan telah direncanakan dengan cermat, tanpa celah bagi Sang Prahara untuk melarikan diri dari takdirnya.Kunara Sancaka, kini tampak kusam dengan jubah koyak dan rambut gimbal yang berserakan, berdiri tegak di atas sebongkah batu besar. Aura gelap masih menyelimutinya, meskipun pasukannya telah hancur dan semangat para pengikutnya telah padam. Matanya yang merah, bagai bara api iblis yang membara di tengah malam pekat, tetap memancarkan kobaran amarah yang tak terkendali. Di tangannya, cambuk sakti Pralayakusuma

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 213 Kepulangan dan Rahasia Darah

    ​Perjalanan Mudra yang panjang menuju kediaman sementara Mpu Kumbhayoni di pinggiran Giri Watangan membawa serta kabar yang tidak hanya mengejutkan secara politis, tetapi juga menggetarkan sisi emosional keluarga Sanjaya. Di sana, di antara hiruk pikuk persiapan dan kesibukan daerah transisi, Kumbhayoni sedang duduk menyendiri, menatap punggung pegunungan yang menjulang dengan perasaan campur aduk setelah kepergian adiknya, Mayang Salewang, ke tanah seberang. Kabar bahwa Mayang memutuskan untuk mengikuti suaminya dan anak-anaknya menyeberangi lautan menuju wilayah di bawah kekuasaan Rakai Warak tidak hanya meninggalkan kekosongan, tetapi juga rasa penyesalan yang dalam di benak Kumbhayoni. Ia tahu adiknya pergi untuk mencari ketenangan dan harapan baru, jauh dari intrik yang membelit wangsa mereka, namun kepergian itu seolah menegaskan isolasi dirinya yang semakin parah.​Kesendirian Kumbhayoni pecah ketika Mudra, dengan rombongan pengiring yang tak terlalu mencolok namun tetap menunj

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status