Angin senja membelai vihara sederhana di kaki Gunung Sadara. Di serambi kayu yang telah lapuk termakan usia namun masih kokoh, Wiku Sasodara mengajak Mpu Panukuh duduk bersisian, membiarkan keheningan senja menyelimuti. Jauh di belakang mereka, Talang Wisang bersama para pengawal berdiri mengawasi, menjaga jarak dengan penuh hormat, menyadari beratnya suasana yang membayangi. Sebuah bisikan takdir, mereka tahu, kini menggantung di udara, menunggu saat untuk terucap dan membentuk kembali garis hidup Mpu Panukuh.Wiku Sasodara, dengan sorot mata bijaksana yang telah menyaksikan berbagai pergolakan zaman, meraih sebuah gulungan rontal kuno dari lipatan kainnya. Disegel rapi dengan lak merah berukiran cap Suryawangsa, rontal itu diserahkan langsung ke tangan Panukuh. Rasa dingin lembaran daun lontar itu menjalar di telapak tangannya, seakan membisikkan cerita berabad-abad lamanya.“Panukuh,” Wiku Sasodara memulai, suaranya tenang namun mengandung otoritas yang dalam, “kau kembali ke bhumi
Last Updated : 2025-12-13 Read more