Mendengar tangis Raisa yang pecah dan terdengar semakin histeris di seberang telepon, pertahanan Alan runtuh. Rasa bersalahnya membuncah, mengalahkan logika bahwa ia seharusnya berada di rumah duka saat ini.Ia bisa membayangkan Raisa yang sedang meringkuk ketakutan di pojok kamar, persis seperti saat traumanya kambuh dulu."Raisa, hei! Tenang dulu, jangan nangis kayak gitu," ucap Alan panik, suaranya naik satu nada. Ia mondar-mandir di samping mobilnya, mengacak rambutnya dengan frustrasi."Aku takut, Mas... jangan tinggalin aku sendiri..." rintih Raisa di sela isakannya. Suaranya terdengar sangat sesak, seolah oksigen di sekitarnya benar-benar habis.Alan memejamkan mata sejenak, menoleh ke arah pintu rumahnya di mana bendera kuning sudah terpasang. Hatinya tercabik. Di dalam sana ada jenazah ibunya, tapi di telepon ini ada wanita yang nyawanya seolah sedang di ujung tanduk karena ketakutan."Ya sudah, kamu tunggu di sana! Jangan matikan teleponnya, tetap bicara sama aku," ucap Alan
Terakhir Diperbarui : 2026-05-11 Baca selengkapnya