“Raisa, lihat saya!” Alan menangkup kedua pipi Raisa, lalu memaksanya menoleh dan menatapnya. “Apa kamu sudah mengingat semuanya?” Raisa justru semakin menangis. Matanya memerah, wajahnya basah oleh air mata. Pemandangan yang terasa begitu menyayat hati Alan. Ia tak suka melihat Raisa menangis. Ia tak ingin wanita yang ia cintai itu terus menderita Tangan Alan masih menangkup wajah Raisa, jempolnya bergetar saat menyeka air mata yang terus mengalir. “Jawab saya,” ucapnya lirih, hampir putus asa. “Apa kamu sudah ingat…” Raisa terisak. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tak beraturan. Perlahan, tangannya mencengkeram pergelangan Alan. “Aku ingat semuanya,” katanya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku menjijikkan, Mas… aku jahat sama ibuku sendiri. Seharusnya aku tidak melakukan itu!” Raisa berteriak histeris sambil menarik rambutnya sendiri. Melihat itu, Alan langsung menarik Raisa ke dalam pelukannya, menahan kedua tangannya agar ia tak melukai diri sendiri. “Hei,
Read more