"Makanya jadi orang itu harus peka, Alea. Kamu sampai nggak tahu kalau ada keadaan garurat di rumah Kita. Kamu nggak care, nggak sensitif. Kamu nggak peduli bagimana perasaan Papa dan Mama dalam menyikapi masalah ini. Alea, Kamu anak perempuan satu - satunya. Harusnya Kamu lebih peka dengan keadaan sekitar. Jangan cuek dan maunya senang - senang sendiri. Apa Kamu tahu Mama seharian kemarin nangis terus? Apa Kamu nggak ada empati sama sekali sama kondisi Axel dan perasaan Mama dan Papa? Sadar, Alea! Kamu bukan anak kecil lagi! Kamu perempuan dewasa yang punya tanggung jawab dalam keluarga! Mikir!"Alea tercengang. Alvian berbicara sepanjang itu dalam satu tarikan nafas dan ia tidak terengah sama sekali. Mulut Alea terbuka lebar karena terkesima. Ia tidak dapat mendebat Alvian sama sekali. Ia sibuk berpikir untuk mencerna maksud kakak pertamanya itu. "Tutup mulutmu, Al! Apa Kamu ingin lalat mengira mulutmu adalah sarangnya?" Sentak Alvian. Alea langsung menutup mulutnya. Tapi lalu m
Leer más