Teman - teman yang lain ikut memesan dan Mimin mencatatny di selembar kertas. "Benaran Kita mau makan sama Nyonya?" Tanya Buma tidak percaya. Mimin mengangguk. "Nyonya kesepian. Kasihan." Katanya prihatin. Yang lain mengangguk dengan perasaan senada. "Jangan lupa, Min. Ayam serundengnya ditambah pergedel. Sambalnya yang banyak!" Kata Teguh yang membuat mereka sebal."Nggak nyadar sikon!" Gerutu Mimin. "Dasar gembul!" Kecam Buma juga.Teguh tertawa. Ia tidak peduli. Yang penting makan enak! "Kapan belinya, apa Aku aja yang beli?" Ia justru menawarkan dirinya. "Nanti dong kalau mau jam makan siang!" Semprot Mimin. "Biar Aku aja yang beli. Kamu nanti korupsi!" Ketus Mimin lagi sambi mencari keberadaan Seno dan Damar. Lebih baik ia pergi dengan salah satu dari mereka. Itu yang ia pikirkan. Teguh mendecih. Perutnya yang bulat ia usap - usap karena sudah mengharapkan makanan itu ada di hadapannya sekarang. "Balik ke pos, sana!" Usir Mimin sebal. "Tapi Kamu belum bikinin kopi pe
Read more