"Tiff, Kamu tahu konsekwensinya karena Kamu udah memeras orang?"Tiffany seperti termenung untuk sesaat sebelum menjawab, "Aku tahu, Kak." Katanya seraya menghela nafasnya. "Kamu harus kuat, ya? Aku percaya Kamu akan kuat."Kembali Siska memberikan kata - kata motivasinya. Mata Tiffany terlihat berlinang. "Kalau saja Aku punya kakak sepertimu, Kak." Katanya. Siska tersenyum. "Aku mau jadi Kakakmu. Kamu itu adik yang manis." Kata Siska sambil mengusap pipi Tiffany. "Kakak pulang dulu, ya?""Ya." Sahut Tiffany sambil melambaikan tangannya sampai Siska benar - benar keluar dari kamarnya. Tiffany mengerjapkan matanya hingga airmata langsung turun membasahi pipinya. Anehnya, ia merasa lebih tenang dari sebelumnya. Ia sadar, perbuatannya sama sekali tidak dapat dibenarkan dan ia harus siap menanggung akibatnya. Tiffany melambaikan tangannya pada perawat yang sudah lebih dari sebulan ini menjaganya. "Tolong lihat keluar. Apa Mama dan Papa sudah kembali?" Pintanya saat perawat itu m
Read more