LOGINSabrina diam dan menatap ke mata sang kekasih. Ada binar cinta yang dalam dan hangat. Dan itu ditujukan hanya untuknya. "Tapi Kamu tadi..""Brin," Potong sang kekasih cepat. "Maksudku bilang begitu itu biar si Alea itu merubah penampilannya. Seperti yang tadi itu lebih bagus, lebih polos dan terlihat baik - baik. Kak Lukman bisa aja jadi suka kalau dia seperti itu tadi." Jelasnya panjang lebar. Sabrina diam. Ia berusaha mencerna apa yang dikatakan sang kekasih. Sang kekasih seperti mendapat celah melihat kediaman Sabrina. "Dia emang cantik dan sexy tapi kelihatan murahan. Kalau tertutup begitu kan, enggak? Kamu suka sama dia, kan? Kamu mau dia jadian sama Kak Lukman, kan?" Kata sang kekasih lebih panjang dan lebar. Sabrina kembali diam. Ia mengakui kebenaran kata - kata kekasihnya itu. Lagipula memang tidak ada salahnya meminta Alea berubah. Memang sulit tapi bukan tidak mungkin, kan? Ia memang lebih menyukai Alea dibandingkan dengan Paramitha yang sering tidak peduli dengan k
Sang kekasih langsung memeluknya tanda setuju. Mereka seperti pasangan pengantin baru beda usia. "Setuju! Mau kan, Sayang?" Sahut Sabrina sekalian bertanya pada sang kekasih. "Apa sih yang enggak untukmu, Brin?" Sahut Sang kekasih dengan senyuman mesranya. Alea mendengus dalam hati, 'Sial! Tahu begini Aku mendingan nemenin Mama di rumah!'"Kita satu mobil aja." Usul Sabrina sambil bergayut pada lengan kekasihnya. "Boleh, Kami juga cuma pakai motor." Timpal Paramitha seraya mengerling manja pada sang kekasih. Alea menautkan alisnya. 'Mitha naik motor? Yang benar saja!'Paramitha melihat reaksi Alea dan langsung mengerti apa yang ada dalam benak Alea. "Pacarku masih kuliah. Sama Papanya belum boleh bawa mobil." Katanya menjelaskan. Sang kekasih mengangguk. Alea mendecih, "Apa emang nggak punya mobil?" Celanya langsung membuat wajah kekasih Paramitha memerah seketika. Entah karena malu atau marah. "Sembarangan! Jangan ngaco Kamu, Al!" Bela Paramitha sambil melotot. "Lagian,
Teman - teman yang lain ikut memesan dan Mimin mencatatny di selembar kertas. "Benaran Kita mau makan sama Nyonya?" Tanya Buma tidak percaya. Mimin mengangguk. "Nyonya kesepian. Kasihan." Katanya prihatin. Yang lain mengangguk dengan perasaan senada. "Jangan lupa, Min. Ayam serundengnya ditambah pergedel. Sambalnya yang banyak!" Kata Teguh yang membuat mereka sebal."Nggak nyadar sikon!" Gerutu Mimin. "Dasar gembul!" Kecam Buma juga.Teguh tertawa. Ia tidak peduli. Yang penting makan enak! "Kapan belinya, apa Aku aja yang beli?" Ia justru menawarkan dirinya. "Nanti dong kalau mau jam makan siang!" Semprot Mimin. "Biar Aku aja yang beli. Kamu nanti korupsi!" Ketus Mimin lagi sambi mencari keberadaan Seno dan Damar. Lebih baik ia pergi dengan salah satu dari mereka. Itu yang ia pikirkan. Teguh mendecih. Perutnya yang bulat ia usap - usap karena sudah mengharapkan makanan itu ada di hadapannya sekarang. "Balik ke pos, sana!" Usir Mimin sebal. "Tapi Kamu belum bikinin kopi pe
Safira tidak tahu kalau paviliun Siska itu cukup luas untuk menampung mereka semua. Siska bukanlah orang susah seperti yang ia pikirkan. Ia hanya berasal dari kampung terpencil yang ingin mengenal dan merasakan kehidupan di kota besar. Rumahnya memang jauh dari Mall tapi rumahnya bagus dan layak. Memang tidak ada banyak kamar karena mereka hanya tinggal bertiga. Siska anak tunggal. Tapi Ada kolam ikan yang sangat besar dan dapat menampung ikan mas dan gurame untuk di jual ke pasar yang harus menuruni pegunungan tempat mereka tinggal. Siska bukan orang susah. Ibunya adalah penjahit kenamaan ibu kota yang mulai bosan dengan hiruk pikuk dan kemacetannya. Ia meminta tinggal di daerah pegunungan yang udaranya masih segar dan asri dan suaminya mengabulkan keinginannya. Pada awalnya sang suami membeli dua ratus hektar tanah untuk mereka tinggali di kampung mereka yang sekarang saat Siska masih bayi. Sang suami adalah seorang insinyur perternakan dan sukses membudidayakan ikan mas dan guram
Siska langsung berdiri. Ia bingung harus bagaimana tapi Safira nampak tak acuh saat duduk di sebelah Athena. "Kenapa Kalian tampak sangat senang? Tawa Kalian itu sampai terdengar ke belakang, lho!" Kata Safira sambil meraih kue yang di suguhkan untuk Siska. Belum ada yang menjawab pertanyaannya tapi Safira sudah bicara lagi. Tepatnya menitah, "Mana minumanku, Atha?" Tanyanya pada Athena. "Ibu mau teh atau..""Coklat panas." Potong Safira cepat. "Kamu, Eva? Kamu juga belum minum." Tanya Athena pada Evara. Evara menggeleng. "Aku sudah minum. Aku kan bawa bekal minum." Katanya sambil menunjukkan botol minumannya. Perlahan Siska duduk lagi dengan perasaan canggung sementara Athena berjalan ke belakang untuk meminta minuman pesanan Safira. "Ibu, Athena ingin menikah bulan depan. Apa Ibu sudah tahu?" Tanya Evara lembut. Safira mengangkat alisnya membuat jantung Siska berdebar lebih cepat. "Aku tahu."Jawaban Safira membuat Siska terperangah. Jawaban dan reaksi sama sekali tidak s
"Apa Ibu mempersulitmu?" Tanya Athena. Mereka dalam perjalanan pulang dan rencananya Siska akan mampir ke rumah Athena dulu. Ia sangat merindukan Evara. Safira masih tetap ingin tinggal di rumah lamanya. "Aku kan yang ditugaskan Eva untuk memantau. Bagaimana kalau pekeerjaan mereka nggak beres?" Katanya sok penting. "Kalau gitu Kami pulang duluan." Pamit Athena. Siska mencium punggung tangan Safira sebelum mengikuti langkah Athena keluar. "Enggak." Sahut Siska singkat. "Kamu yakin?" Tanya Athena tidak percaya. Ia sangat mengenal sifat ibunya. Sikapnya juga sering di luar nalar. Tapi Siska tetap menggelengkan kepalanya seraya tersenyum manis. "Ibu baik sekarang." Katanya memuji dengan suara rendah. Dalam hati ia meminta maaf karena berbohong. Tapi itu dilakukannya demi kebaikan untuk semua. Ia yakin suatu saat Safira akan menerimanya dengan kemauannya sendiri. "Syukurlah kalau begitu." Sahut Athena. Ia tampak senang dan mulai bersenandung dengan suara lirih. "Lopisnya enak
"Baik, Nyonya." Jawab Robby. Robby menatap sosok Athena yang berdiri kaku karena tidak tahu harus melakukan apa. Robby sendiri sudah mendapat pemberitahuan langsung dari Adamis. "Bimbing Dia ke arah yang benar." Canda Adamis tadi melalui ponselnya"Maksud Tuan Muda?" Tanya Robby tidak mengerti.
Anthony membelalakkan matanya. Tebakan Adamis benar. Secara naluriah ia takut akan kepintaran Adamis. Ia tidak bisa memecatnya kalau sudah begini. Dan itu akan membuat posisinya terancam. Secara Adamis adalah kerabat Vicky. Bagaimana kalau ia mengalihkan jabatannya pada Adamis kalau ia menganggapny
Athena tersenyum sinis saat akhirnya perceraiannya dengan Viona diputuskan untuk ditunda hingga Viona melahirkan.Athena berdiri dengan kedua tangan terkepal. Ia berjalan mendekati hakim yang memproses perceraiannya dengan Viona. "Pak Hakim, apa Anda tau kalau anak dalam kandungannya itu benar - b
Tiba - tiba pintu terbuka. Seorang perempuan cantik masuk dengan pakaian kurang bahan. Begitu Adamis menyebut rok mini yang dikenakan Alea. "Say.."Ucapan Alea terputus. Matanya membulat melihat kehadiran Ariana di ruang Adamis. "Alea! Angin apa yang membawamu ke sini?" Sapa Ariana. Alea terkeju







