“Mami ingat dengan bidan yang nolong aku waktu di lampu merah, waktu aku gak sengaja menabrak mobilnya?” tanya Kaisar pagi itu, ketika mereka sarapan bersama. Sekar mengangkat pandangannya dari piring, menatap putra bungsunya. “Tentu saja ingat. Kejadiannya juga belum lama,” jawabnya singkat. Kaisar mengangguk pelan. “Usianya hampir tiga puluh tahun, Mi. Dia juga belum menikah,” lanjutnya hati-hati. “Sepertinya keluarganya juga mulai berharap dia segera punya pasangan.” Sekar menyipitkan matanya sedikit, memperhatikan perubahan nada bicara anaknya. “Lalu?” tanyanya datar. Kaisar menarik napas sejenak sebelum melanjutkan. “Gimana kalau … aku lamar dia menjadi istriku saya, Mi?” ucapnya akhirnya. “Memang kami baru saling mengenal, tapi saya bisa melihat dia perempuan yang baik.” Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatap ibunya. “Kami sama-sama sudah kepala tiga. Aku juga pengen membangun keluarga lagi, kasih cucu buat Mami. Gimana menurut Mami?” Sekar terdiam beberapa saat.
Read more