Pukul tujuh pagi, Djiwa masih terlelap dalam tidurnya. Sementara itu, sang suami, Radja, sudah terbangun sejak pukul enam. Namun Radja sama sekali tidak berniat membangunkan istrinya. Ia membiarkan Djiwa tetap tertidur nyaman dalam pelukannya, dengan napas yang teratur dan wajah yang tampak begitu damai. “Pasti kamu capek sejak kemarin lusa bantu mengurus pernikahan Kaisar dan Karin,” gumam Radja pelan. Tangannya terangkat, menyelipkan helaian rambut Djiwa yang menutupi wajahnya ke belakang telinga. Radja kemudian mencondongkan tubuhnya sedikit. Ia mengecup kening Djiwa, lalu pipinya, hidungnya, kelopak matanya, dan yang terakhir—bibir Djiwa yang masih terkatup rapat. “Ngh ….” Djiwa melenguh pelan, merasakan sesuatu hangat menempel di bibirnya. Radja langsung menarik wajahnya menjauh. Senyum kecil terbit di sudut bibirnya ketika mendengar lenguhan pelan sang istri. “Bangun, sayang,” ucapnya lembut sambil menepuk pipi Djiwa perlahan. “Sudah jam tujuh, Djiwa. Bangun.” Ke
Read more