Radja membeku di tempatnya berdiri. Di hadapannya, tiga anak kecil sudah mengenakan topi ulang tahun berwarna-warni, meniup terompet dengan bunyi yang riuh, sementara balon kecil terikat di pergelangan tangan mereka. Di belakang mereka, Djiwa berdiri sambil memegang kue ulang tahun yang cantik. Di atasnya menyala lilin berbentuk angka empat dan nol. “Selamat ulang tahun, Mas,” ucap Djiwa lembut, menyadarkan Radja dari keterkejutannya. Pria itu menghembuskan napas panjang. Bahunya yang sempat menegang perlahan turun. “Daddy pikir kalian pergi,” gumamnya, masih belum sepenuhnya pulih dari rasa cemas beberapa menit lalu. Ketiga anak itu terkikik melihat ekspresi ayahnya. “Kita sembunyi, Dad!” seru Naren bangga. “Hahah, Daddy gak bisa nemuin kita.” Ia tertawa keras, seolah hal itu sangat lucu baginya. “Biar Daddy kaget,” tambah Ratu puas. “Sini, Daddy. Pakai topinya dulu,” ujar Ratu, sudah memegang satu topi kertas yang sama seperti yang mereka kenakan. Radja menurut. Ia berjong
Read more