Share

BAB 405

Author: Langit Parama
last update publish date: 2026-04-06 00:07:54

“Serius kamu, Kai?” Sekar menatap putra bungsunya tak percaya. “Djiwa hamil lagi?”

Kaisar mengangguk singkat. “Sekarang dia benar-benar bahagia, Mi. Bersama Mas Radja, bersama ketiga anak mereka. Dan juga anak yang akan segera lahir.”

Ia tersenyum tipis. Senyum itu tampak tulus, tetapi di sudutnya terselip rasa perih yang samar.

“Semua kebahagiaan itu seperti jawaban dari penderitaan yang dulu pernah dia alami. Tuhan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik.”

Sekar menghela napa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (9)
goodnovel comment avatar
Marsinta Hutabarat
sekar sudah tua ngak mau tobat
goodnovel comment avatar
Laila
kapan giliran cerita fairis sultan
goodnovel comment avatar
Langit Parama
maksudnya up 10 bab sehari?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 522

    Lampu ruang kerja itu redup, hanya menyisakan cahaya dari layar laptop yang memantul di wajah Radja. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, seolah dunia di luar ruangan itu tak lagi penting. Tok. Tok. Tok. Tanpa menunggu jawaban, pintu terbuka. Radja tidak langsung menoleh. Sementara Djiwa berdiri di ambang pintu, napasnya tertahan sejenak. Ia mengenakan kimono tipis berwarna lembut, rambutnya terurai, langkahnya pelan namun pasti saat masuk ke dalam. Ia mendekat. “Aku ganggu?” tanyanya pelan, tapi jelas. Radja tetap fokus pada layar. “Kalau sudah masuk ke sini, untuk apa tanya lagi?” Djiwa menarik napas dalam, menahan sesuatu di dadanya. Ia berdiri di sisi meja kerja, menatap suaminya lekat. “Kamu sengaja, ya?” ucapnya tiba-tiba. Baru kali ini jari Radja berhenti. Namun kepalanya belum terangkat, tatapannya fokus pada layar laptop. “Sengaja apa?” tanyanya dingin. Djiwa mendengus pelan. “Cari guru les perempuan, cantik lagi.” Akhirnya Radja menoleh. Tatapannya lurus.

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 521

    “Kenapa Ratu gak ikut les, ya?” tanya Naren begitu sesi belajar mereka selesai. Ia menoleh ke arah kakaknya yang tengah merapikan buku-bukunya ke dalam tas. “Mungkin adek lagi gak enak badan,” jawab Regan tenang, meski sorot matanya menyiratkan keraguan. “Ayo kita ke kamarnya. Kita lihat sendiri.” Naren mengangguk cepat. Keduanya bergegas menaiki tangga menuju lantai dua, langkah kaki mereka terdengar ringan namun penuh rasa penasaran. Setibanya di depan kamar Ratu, pintunya terbuka sedikit. Regan mendorongnya perlahan. Di atas ranjang, mereka menemukan Ratu meringkuk, tubuh kecilnya memeluk bantal. Wajah mungil itu tampak pucat, dengan jejak air mata yang sudah mengering di pipinya—tanda bahwa ia telah menangis cukup lama tanpa ada yang menemani. Naren langsung mendekat, menempelkan punggung tangannya ke kening sang adik. “Gak panas, Mas,” gumamnya pelan. Regan menghela napas panjang, dadanya terasa sesak melihat kondisi adiknya. “Apa karena tadi pagi?” ucapnya lirih. Naren m

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 520

    Drrtt. Ponsel di atas nakas bergetar, membuat Bagas langsung meraihnya dengan sedikit malas. “Halo?” “Bagas, ini aku. Bulan depan aku mau nikah, dan banyak yang harus aku siapin.” Bagas menghela napas panjang, berat. Ia menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. “Terus … urusannya sama aku apa?” “Kamu lagi sibuk, gak?” tanya suara di seberang sana. “Langsung aja,” potong Bagas datar. Terdengar kekehan kecil dari seberang. “Gantiin aku satu setengah bulan ke depan buat ngajar, ya.” “Ngajar di mana?” tanya Bagas, masih terdengar biasa saja. “SD Lumina. Tenang, anak-anaknya gampang diatur. Orang tuanya juga tipe yang serius soal pendidikan.” Bagas yang semula bersandar santai, langsung berubah posisi. Ia duduk tegak. “Lumina?” ulangnya, kali ini lebih pelan. “Hm, Lumina. Bantuin kakakmu ini, ya, dek. Siapa tahu kalau kinerjamu bagus, kamu bisa dilirik kepala sekolah. Lumayan buat nambah pengalaman.” Bagas terdiam. Lumina. Nama itu terlalu familiar, sekolah tempat anak-anak

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 519

    “Selamat sore, Nyonya,” sapa seorang wanita muda saat Djiwa sedang berjalan santai di taman depan mansion. Djiwa sedikit terkejut, namun segera tersenyum ramah. “Sore. Maaf … dengan siapa, ya?” Wanita itu mengulurkan tangan dengan sopan. “Saya Bila, guru les privat baru untuk anak-anak Tuan Radja.” “Oh …,” Djiwa membalas uluran tangan itu dengan hangat. “Selamat datang. Saya Djiwa, ibunya anak-anak.” “Senang berkenalan dengan Anda, Nyonya,” ucap Bila dengan sikap profesional. “Langsung mulai hari ini, ya?” tanya Djiwa. “Atau hanya perkenalan dulu?” “Langsung mulai, Nyonya. Tuan Radja menyampaikan anak-anak sudah cukup banyak tugas yang harus dikejar.” Djiwa mengangguk pelan. “Baiklah. Mari masuk.” Bila mengikuti dari belakang, langkahnya tenang. Sesampainya di ruang tengah, ia duduk dengan rapi sambil menunggu. Matanya tak bisa menahan diri untuk tidak berkeliling. Mewah. Megah. Elegan. Rumah itu lebih dari sekadar besar. Terlalu sempurna. Sementara itu, Djiwa sudah menaiki

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 518

    “Ratu gak mau dicium Daddy,” tolak Ratu, bibirnya mengerucut, wajahnya cemberut. Radja tersenyum tipis, mencoba tetap tenang. “Kamu marah sama Daddy, hm?” “Daddy jahat sama Ratu, Daddy bentak Ratu kemarin,” jawab bocah itu lirih, suaranya bergetar. Radja terdiam. Perlahan, tatapannya beralih pada Djiwa—dingin, dalam, dan menyiratkan sesuatu yang tak terucap. Djiwa langsung menelan ludahnya susah payah. Kepalanya menggeleng kecil, seolah menolak tuduhan yang bahkan belum dilontarkan. Di sisi lain, Regan dan Naren hanya saling melirik, sama-sama memilih diam. “Daddy kemarin tidak sengaja, Nak,” ucap Radja akhirnya, suaranya tetap tenang. “Bukan kemauan Daddy buat bentak kamu.” Namun Ratu memalingkan wajahnya, menolak menatap ayahnya. “Kalau begitu … Daddy minta maaf, ya. Kalau kamu marah, Daddy janji tidak akan marahin kamu lagi.” “Ratu gak mau maafin Daddy,” lirihnya, suaranya pecah. Radja menarik napas pelan. “Kenapa gak mau maafin Daddy?” Tak ada jawaban. Hanya mata kecil

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 517

    “Saya pikir kamu tulus meminta maaf kemarin,” ucap Radja pelan, namun setiap katanya terasa menekan. “Saya pikir kamu benar-benar menyesal.” Djiwa menahan napas. “Tapi apa yang Ratu katakan hari ini …,” lanjutnya, sorot matanya mengeras, “Membuat saya mulai ragu.” “Mas ….” suara Djiwa lirih, nyaris tak terdengar. “Seberapa dekat kamu dengan Bagas?” potong Radja tiba-tiba, dingin, tajam, tanpa jeda. “Sampai bukan cuma anak kita yang ingin dia kembali, tapi kamu juga.” Djiwa langsung menggeleng tegas, matanya berkaca. “Aku gak pernah berharap itu, Mas. Demi apa pun, aku gak—” “Kamu tidak akan pernah mengakuinya semudah itu, Djiwa,” sela Radja, suaranya semakin rendah, namun sarat kekecewaan. “Karena dari awal, kamu sudah memilih menyembunyikannya.” Djiwa terdiam. Dadanya sesak. “Aku gak nyembunyiin apa-apa, Mas. Aku cuma ....” “Tapi kamu cerita ke dia.” Radja kembali memotong, kali ini lebih dingin. “Masalah rumah tangga kita. Hal yang seharusnya hanya kita berdua sebagai suami

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 58

    “Simbiosis mutualisme?” Radja mengulang dua kata itu pelan, dengan senyum miring yang tidak sepenuhnya bisa dibaca. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan seolah mencoba memahami isi kepala perempuan di hadapannya. Djiwa menunduk. Napasnya tercekat. “Biarin Djiwa sendiri dulu, Mas …

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 48

    Sudah satu jam yang lalu Djiwa terlelap di pelukan Radja. Pria itu bahkan absen dari kantornya hari ini hanya untuk menemani wanita itu tidur di hotel. Entah apa yang membuatnya memilih menetap di sini. Jika bicara soal khawatir, harusnya dia tetap bisa meninggalkan Djiwa seorang diri setelah mema

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 53

    “Kenapa kamu melakukan itu pada Djiwa, Inggrit?” tanya Sekar saat yang lain berangkat kerja, hanya menyisakan mereka berdua, dan juga Aprilia yang diletakkan di bouncer bayi. Inggrit menghela napas panjang. “Aku gak suka aja sama Djiwa, bener-bener gak suka. Selama ini aku gak pernah satu frame sa

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 59

    Pagi itu, meja makan begitu sepi—tidak sama seperti hari biasanya. Hanya diisi oleh Sekar yang duduk di ujung meja, Radja, Inggrit, Anggita dan yang terakhir Djiwa. Sekar melirik pada Djiwa yang makan dengan tenang, padahal sebenarnya wanita itu tengah memikirkan perihal semalam Sekar memintanya u

    last updateLast Updated : 2026-03-19
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status