Radja mengangkat tubuh Djiwa ke dalam pelukannya, jantungnya berdegup tak karuan. Wajah sang istri pucat, bibirnya kehilangan warna. “Sayang … buka mata. Djiwa,” bisiknya panik, menepuk lembut pipinya. Beberapa detik yang terasa begitu panjang akhirnya berlalu. Djiwa mengerjap pelan, napasnya masih tersengal. Radja menghembuskan napas lega, memeluknya lebih erat seolah takut perempuan itu kembali limbung. “Saya hubungi dokter, ya,” ucapnya pelan, berusaha tetap tenang. Ia menggendong Djiwa keluar dari kamar mandi dan membaringkannya hati-hati di atas ranjang. “Mas ….” gumam Djiwa lirih, matanya setengah terpejam. “Iya, sebentar. Saya telepon dokter dulu,” balas Radja sambil meraih ponselnya. Jemarinya bergerak cepat menghubungi dokter langganan keluarga mereka. Di luar kamar, ketiga anak mereka yang sejak tadi gelisah mulai berjalan mendekat. Pintu kamar yang tak tertutup rapat membuat suara Radja terdengar jelas. “Mommy kenapa?” bisik Ratu, matanya mulai berkaca-kaca. “Ayo k
Read more