“Biar Daddy sama Mommy cepet punya cucu.” Regan mendengkus pelan, melirik adik bungsunya sekilas. “Kamu yang semangat.” “Ya semangatlah.” Ratu mengangkat bahu. “Daddy kan udah kepala enam. Kasihan kalau nunggu cucunya kelamaan. Umur gak ada yang tahu, Mas.” Regan akhirnya melepas kemejanya, lalu melemparkannya ke keranjang pakaian. Tatapannya kembali jatuh pada sang adik. “Keluar.” Perintah Regan. Dingin, datar. Ratu memonyongkan bibir. “Ih ... pelit amat. Emang Ratu belum pernah lihat?” “Ratu.” Tegurnya tajam. “Iya, iya.” Sambil terkekeh kecil, Ratu turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu kamar. Sebelum benar-benar keluar, ia masih sempat menjulurkan kepala. “Nanti kalau Mas Naren udah pulang, jangan kabur, ya. Kita tetep rapat.” “Keluar.” “Siap, Bos.” Ratu terkikik sebelum akhirnya menutup pintu kamar. Baru beberapa langkah meninggalkan kamar Regan, suara pintu utama terbuka dari lantai bawah. Ratu spontan menoleh ke arah foyer. Seorang pria bertubu
最終更新日 : 2026-07-02 続きを読む