Tentu saja, semua itu harus dia selidiki.Nayla saat ini tidak punya waktu untuk memikirkannya.Meskipun orang yang terbaring di ruang operasi adalah Geri, Nayla teringat apa yang pernah dilakukan Simon untuknya.Entah itu tulus atau pura-pura, dia berjalan ke sana tanpa ragu, ingin memeluknya."Simon, kamu nggak capek berdiri terus?"Nayla menghampiri Simon, menatapnya dengan hati sedih.Di mata orang lain, Simon adalah iblis yang tegas dan kejam.Namun, pada akhirnya, dia juga manusia.Seorang anak, seorang cucu, memiliki hati dan perasaan.Simon mendengar suaranya, mengira pikirannya telah berkhayal. Dia terdiam beberapa detik sebelum mendongak.Begitu melihat Nayla, ekspresinya berubah-ubah.Ada rasa terkejut, ada rasa bingung."Kenapa nggak pulang? Sudah kubilang tadi, pulanglah dan istirahat."Nayla menundukkan pandangannya, lalu mengangkatnya kembali sambil tersenyum padanya. "Aku ingin menemanimu."Mata hitam pekat Simon seolah menyembunyikan sesuatu, lalu menatapnya dengan ras
Read more