Arlo mengangguk tipis, tetapi tidak berhenti. Dia langsung berjalan menuju sofa di dekat jendela kaca besar."Siapa dia? Sombong sekali! Tuan muda dari keluarga mana yang berani bergaya sebesar itu?" Garya menggerutu kesal.Dengan status mereka yang hadir di sini, orang itu malah berani bersikap seangkuh ini. Setelah disapa, dia bahkan tidak membalas sepatah kata pun dan langsung pergi!"Pak Garya, jangan banyak bicara!" Wajah Erkan sedikit menggelap dan dia langsung menegurnya.Namun, karena merasa tidak baik menyinggung Keluarga Wardana, dia kemudian merendahkan suaranya, "Dia seseorang yang nggak boleh kita singgung!""Huh, aku nggak mengerti ucapan Pak Erkan. Di wilayah Cangga ini, memangnya ada berapa orang yang nggak berani kusinggung?"Garya mencibir. Kemudian, seolah baru memikirkan sesuatu, dia berkata, "Jangan-jangan dia orang yang baru saja kalian bicarakan?"Sambil berkata demikian, dia melirik ke arah Arlo.Masih sangat muda. Selain auranya yang cukup mengintimidasi, tidak
Read more