Lorong penginapan itu terasa sangat sempit, seolah dinding-dinding kusam yang mengelupas catnya sedang bergerak menghimpit mereka. Cahaya dari lampu neon di langit-langit berkedip-kedip, menciptakan bayangan yang menari-nari secara aneh di lantai tegel yang dingin.Fahmi yang baru saja akan melangkah masuk ke kamar mereka, kamar nomer 69, mendadak berhenti. Ia merasakan genggaman tangan Rina di lengannya mengeras, kuku wanita itu sedikit menekan kulit jaketnya. Fahmi menoleh dan menemukan wajah Rina pucat pasi, matanya terpaku pada satu titik di ujung lorong yang remang-remang."Rin? Ada apa?" tanya Fahmi lembut, namun nada suaranya mengandung kewaspadaan.Bram yang juga menuju ke arah kamarnya sendiri di nomer 68, ikut menghentikan langkah. Ia berdiri di belakang mereka, matanya yang tajam langsung menyapu sekeliling, mencari apa pun yang membuat Rina mendadak membeku seperti itu."Itu ...." Rina berbisik, suaranya hampir tidak terdengar, bergetar hebat. Ia tidak berani menunjuk, nam
Última actualización : 2026-01-12 Leer más