Suara jangkrik di tengah hutan pinus yang gelap itu seolah mengejek Ervan. Udara malam yang dingin menusuk hingga ke tulang, menembus kemeja mahalnya yang kini kotor oleh tanah dan keringat. Ia menelan ludah, tenggorokannya terasa kering dan perih. Namun, yang lebih menyakitkan dari rasa dingin itu adalah harga dirinya yang terkoyak. Ia benci dipandang rendah."Buka pintunya, Claudia. Aku tidak butuh ejekanmu sekarang," desis Ervan. Suaranya serak, namun masih membawa nada perintah yang kaku.Claudia tidak segera bereaksi. Di balik kaca mobil yang setengah transparan, ia justru mematikan mesin mobilnya. Keheningan hutan seketika menyergap, hanya menyisakan suara detak jantung Ervan yang tak beraturan. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, Claudia bersandar santai di kursi pengemudi, melipat tangan di depan dada, dan menatap Ervan dengan tatapan yang sulit diartikan."Tunggu dulu, Sayang. Jangan terburu-buru," ucap Claudia, suaranya teredam kaca namun tetap terdengar tajam. "Bukan
Last Updated : 2026-01-05 Read more