"Mina itu sahabat Aqila, Mi. Kalau dia tahu, tamatlah riwayatku juga karena sudah menyembunyikan ini darinya," Yogi terkekeh hambar. "Tapi demi persahabatan kita, aku tutup mulut. Sekarang, sebaiknya kalian pergi sebelum ada orang lain yang lebih jeli dari aku mengenali kalian.""Kami duluan, Gi. Ar, makasih ya," pamit Fahmi cepat pada Yogi dan Arya.Bram segera memberi kode agar mereka segera bergerak. Mereka bertiga berjalan cepat meninggalkan restoran, kali ini lewat pintu depan karena merasa Yogi sudah "mengamankan" situasi. Sementara itu, Yogi kembali duduk di kursi yang tadi ditempati Fahmi. Ia menatap Arya yang masih termangu."Duduk, Ya. Kita bahas draf proyeknya, sekalian kamu ceritakan padaku ... sejak kapan Fahmi jadi senekat ini," gumam Yogi sambil menuangkan teh ke gelasnya yang kosong.Arya mengendikkan bahu. “Entahlah … Aku juga nggak tau.”***Di dalam mobil SUV milik Bram, suasana jauh lebih tenang namun tetap tegang. Fahmi duduk di kursi pengemudi, tangannya mencengk
Última actualización : 2026-01-20 Leer más