Raungan sirine mobil polisi itu perlahan menjauh, tenggelam di balik derasnya hujan yang mengguyur Bogor malam itu. Di balik pilar besar koridor rumah sakit yang remang-remang, Bram berdiri mematung. Nafasnya tertahan, jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit di dada. Tangannya yang terkepal kuat gemetar hebat saat menyaksikan sahabatnya sendiri, Fahmi, digiring dengan tangan terborgol seperti kriminal kelas kakap. Padahal, bagi Bram, ini hanyalah kasus ringan yang dibesar-besarkan oleh kuasa gelap Ervan.Bram tidak bergerak sedikit pun. Ia menekan punggungnya ke dinding dingin, membiarkan kegelapan menyembunyikan sosoknya. Ia melihat AKP Setiawan menutup pintu mobil patroli dengan keras, lalu kendaraan itu meluncur pergi, membawa Fahmi menuju lubang kehancuran."Maafin aku, Mi ... maafin aku," bisik Bram parau. Air matanya nyaris luruh, namun ia segera mengusapnya dengan kasar.Dalam benak orang awam, tindakan Bram yang hanya diam menonton mungkin dianggap pengecut. Namun, Br
Última actualización : 2026-01-25 Leer más