“Sayang,” bujuk Abra pelan pada Serayu yang berbalik memunggunginya. Mereka sedang berada di atas ranjang. Lampu kamar juga sudah diredupkan, menciptakan suasana yang tenang, tetapi di antara keduanya terasa ada jarak kecil. Sejak tadi Serayu lebih banyak diam. Abra menghela napas pelan. “Jumat, Sabtu, dan Minggu aja. Kalau selesai lebih cepat, saya langsung pulang—” “Pergi saja sih, Mas,” potong Serayu tiba-tiba. Nada suaranya terdengar sedikit kesal. Abra mengerutkan kening, lalu mendekat dan memeluk istrinya dari belakang. Lengannya melingkari pinggang Serayu dengan lembut. “Kok nadanya kesal begitu?” tanyanya. Serayu langsung berbalik menghadapnya dan tanpa ragu melayangkan pukulan kecil ke dada bidang suaminya. “Kesal bangetlah! Belakangan Mas suka kasih taunya dadakan,” protesnya. Abra hanya menahan pukulan kecil itu sambil tersenyum tipis menenangkan. “Memang kadang waktu dan tempatnya bisa berubah karena situasi, Sayang,” jelasnya tenang. Serayu mendengus pelan, teta
Ler mais