“Saya mau, Mas,” jawab Serayu, senyumnya merekah. Ia kembali menyuapi dirinya, lalu tanpa ragu merapat, masuk ke dalam dekapan Abra. “Jam besuknya mulai jam lima sore,” ujar Abra pelan. Serayu mengangguk. “Iya. Mas jemput ‘kan?” Abra mengangguk, tangannya membelai sayang puncak kepala kesayangannya. *** Keesokan harinya … Pagi ini Abra sudah lebih dulu bangun. Dapur apartemen yang masih sepi menjadi saksi usahanya menebus kegagalan kecil semalam. Ia berdiri di depan kompor, mengingat setiap langkah dengan lebih hati-hati—takaran yang pas. “Den, Bibi bantu, ya,” tawar asisten rumah tangganya melihat Abra sibuk sendiri. “Saya bisa, Bi.” Garam, minyak zaitun, bawang putih ditumis hingga harum. Bibi tersenyum di ruang utama. Abra menggunakan dapur kotor, tak ingin sibuknya mengusik kesayangannya. Tahu sekali bibi, seberapa sayangnya Abra pada istrinya. Betapa Abra sangat meratukan istrinya. Beberapa menit kemudian, Abra keluar dengan menu kebanggaannya. Serayu baru
Ler mais