“Berangkat hari ini, Bro?” sapa Ryan saat melihat Abra di area parkir. Abra hanya mengangguk, tanpa bersuara. “Hati-hati. Good luck,” ucap Ryan, mendoakan kelancaran pertemuan Abra dengan kliennya. Sedikit banyak, ia tahu jadwal lelaki itu. Mereka masih sering duduk bersama sekadar makan siang atau ngopi sore. Tak lama, sebuah sedan hitam melintas di depan mereka, melaju pelan sebelum berputar di bundaran air mancur kecil di depan rumah sakit tempat Abra bekerja. “Aku juga lanjut kalau gitu,” kata Ryan santai. “Siapa?” tanya Abra, matanya mengikuti mobil yang kini dikemudikan seorang wanita dan perlahan mendekat. Ia bukan tipe yang tertarik pada urusan orang, tapi kali ini saja jiwa kepo-nya meronta. “Kenalan lagi. Orang baru lagi,” balas Ryan. “Kamu mundur dari Ara?” Ryan terkekeh kecil. “Ya, sepupumu yang suruh,” jawabnya santai, sambil menepuk lengan Abra pelan. “Aku duluan. Kali ini nggak aku kenalin kamu nanti malah ribet.” Ryan pun berlalu, meninggalkan Abra yang masih sem
Ler mais