Serayu terdiam, kata-katanya seolah tertahan di tenggorokannya. Tangan Abra terulur, mengusap lembut rambut panjang yang sudah setengah kering itu. “Ribet, ya?” tanyanya pelan. Serayu mengangguk kecil, senyum tipis terselip di sudut bibirnya. Abra tentu saja paham karena selama ini, dialah yang sering membantu memasangkan sepatu istrinya. “Nanti kita beli yang lebih nyaman lagi,” ucap Abra, suaranya penuh kesungguhan. Serayu kembali mengangguk. Kali ini ia sedikit memajukan bibirnya, manja. Abra tersenyum melihat isyarat itu, lalu menunduk untuk mengecup singkat bibir istrinya. “Saya keringkan rambut kamu,” katanya kemudian. Tanpa ragu, Serayu langsung menegakkan duduknya dan menyerahkan hair dryer yang sejak tadi berada di atas meja riasnya. “Malam ini Mas bobo sendiri dulu ya,” godanya. Abra yang tadi bergerak santai mendadak diam. Tangannya berhenti, matanya menatap Serayu melalui pantulan cermin di depan mereka. “Kamu jaga malam ini?” tanyanya, suaranya lebih rendah. S
Read more