“Sore, dr. Ezra,” sapa Abra, suaranya tenang namun tegas. “Selamat sore, Dok,” balas Ezra. Sejenak, Ezra seperti kehilangan kata-kata. Ada rasa canggung yang tiba-tiba menyergap. Entah kenapa, ia merasa tertangkap basah oleh lelaki di hadapannya ini karena tadi ia sempat memandangi Serayu lebih lama dari seharusnya. “Bagaimana kabar Anda hari ini?” tanya Abra lagi. Kali ini, tatapannya tak lagi tertuju pada Ezra, melainkan bergeser ke arah Serayu di seberang sana. Jarak mereka memang tak dekat, tapi cukup jelas untuk melihat perempuan itu. “Hari ini… seperti biasa, luar biasa, Dok,” jawab Ezra, mencoba terdengar santai. Abra menoleh kembali. Senyum tipis terukir di wajahnya, tapi manik matanya membaca sesuatu yang tak diucapkan di wajah Ezra. “Cantik sekali,” gumamnya akhirnya. Ezra mengernyit, bingung. “Maaf, Dok?” “Hmm… itu, Istri saya… cantik sekali,” lanjut Abra, kini menoleh lagi ke arah Serayu—tepat saat perempuan itu ikut menoleh. Serayu melambaikan tangan dengan riang d
Ler mais