“Sudah saya katakan, apa yang saya bawakan sangat berharga bagi Anda, Nyonya,” ujar laki-laki bertubuh tinggi tegap itu dengan nada percaya diri.Jihan tersenyum tipis. Ia berdiri di dekat jendela besar, memandang keluar dengan tenang sambil melipat kedua tangannya di dada. Sorot matanya tajam, penuh kepuasan, seolah semua berjalan sesuai rencananya.“Bagus. Kerjamu sangat bagus,” katanya sambil berbalik perlahan menghadap laki-laki itu. “Aku akan memberikanmu upah untuk apa yang sudah kamu lakukan.”“Sesuai dengan perjanjian yang Anda tawarkan, bukan?” tanya laki-laki itu, nada suaranya terdengar sedikit ragu, meski matanya tetap waspada.Jihan tertawa pelan—tawa yang terdengar aneh, hampir seperti kehilangan kendali. Namun hanya sekejap. Ia segera menenangkan dirinya, ekspresinya kembali dingin dan terkendali.“Tentu saja,” jawabnya singkat.Ia mengambil ponselnya, jemarinya bergerak cepat di layar, lalu berhenti sejenak sebelum menekan sesuatu.Tak lama, ponsel laki-laki itu berbun
Ler mais