Tanpa menunggu basa-basi, Jihan menyesap tehnya sekali sebelum meletakkan cangkir porselen itu kembali ke tatakannya.“Kapan Anda akan kembali ke Jepang?” tanyanya begitu ruangan itu dikosongkan.Kini hanya tersisa mereka berdua—meja rendah dengan teh, matcha, dan kudapan khas Jepang tertata rapi, seolah pertemuan itu hanyalah jamuan sopan biasa. Padahal, udara di antara mereka jauh lebih berat dari aroma teh hangat yang mengepul.Tuan Sato tertawa pendek. “Anda sangat terang-terangan,” katanya. “Saya suka orang yang tidak membuang waktu saya,” lanjutnya dalam bahasa Indonesia yang patah-patah, namun tetap terdengar berwibawa.Jihan membalas dengan senyum kecil yang telah ia latih bertahun-tahun. Ia tahu betul, dibandingkan Fabio, ia jauh lebih piawai membaca situasi dan menekan lawan bicara. Andai saja suaminya mau mendengarkan sarannya, mereka tak perlu berhenti di kekayaan yang sekarang.“Ini semua tentang bisnis, Tuan,” ujarnya lembut. “Dan saya yakin …, Anda sendiri tidak terlal
Last Updated : 2025-12-21 Read more