Merasakan ciuman sang kekasih, Fabio tentu tak menghindar. Ia justru membalasnya dengan lebih dalam, lebih menuntut. Tangannya merengkuh tubuh Rani erat, seolah takut wanita itu akan kembali menjauh. Dalam satu gerakan refleks, Fabio mengangkat Rani dan menekannya ke dinding rumah sakit, menahan jarak di antara mereka.Saat napas keduanya mulai terengah dan dada mereka naik turun tak seirama, Fabio akhirnya melepaskan ciuman itu. Ia menatap Rani—yang kini menangis tanpa suara, air mata mengalir di pipinya.“Aku—” Rani tercekat. Suaranya pecah, matanya penuh luka saat menatap Fabio.Fabio tak langsung menjawab. Ia hanya memandang Rani dalam diam, seolah mencoba membaca seluruh isi hati wanita itu. Keseriusan mengeras di wajahnya. Rani tahu—Fabio menunggu jawaban.Sambil menenangkan, Fabio memeluknya kembali, lebih lembut kali ini. Bibirnya mendekat ke telinga Rani.“Jujur saja padaku, Rani. Aku siap menerima apa pun jawabanmu,” bisiknya sabar.Rani tetap terdiam. Dadanya sesak, jantung
Last Updated : 2025-12-18 Read more