Lampu kamar redup, tirai jendela tertutup setengah napas Nathan tercekat di tenggorokan.Di ujung ruangan, di samping tempat tidur, dia melihatnya.Senian.Gaunnya kusut. Rambutnya berantakan seolah pernah ditarik seseorang.Lengannya gemetar, tubuhnya limbung, matanya setengah terbuka kosong, kabur, berjuang keras untuk tetap sadar.Dan tepat di belakangnyaLucien.Tangan kirinya mencengkeram pinggang Senian, menahan tubuh lemah itu agar tidak jatuh.Tangan lainnya masih menelusuri lengan Senian, seperti sedang menikmati sesuatu yang tidak seharusnya.Lucien menoleh pelan, seolah terganggu.Senyum kecil terbentuk di bibirnya.“Terlambat, Nathan.”Kalimat itu, senyum itu, cengkeraman tangan itu di tubuh istrinya, menyalakan api besar dalam dada Nathan.Nathan membeku sesaat.Untuk sepersekian detik, Nathan tidak bergerak. Bukan karena takut. Bukan karena kaget.Tapi karena amukannya terlalu besar, sampai tubuhnya sendiri perlu waktu untuk menahannya agar tidak langsung meledak.Matany
Last Updated : 2025-11-30 Read more