Pagi datang dengan langkah yang tidak ramah bagi Dania.Langit kampus cerah, matahari menyinari gedung-gedung tinggi dan pepohonan rindang, tetapi di dada Dania, awan kelabu tak juga pergi. Ia melangkah pelan menyusuri koridor fakultas, tas selempang tergantung di bahu, wajahnya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang semalam menangis hingga matanya bengkak.Ia mencoba tampak biasa.Namun bisik-bisik itu… selalu ada.“Katanya dia tinggal di panti dulu.”“Iya, kasihan sih. Tapi kok dia bisa kuliah di sini ya?”“Anak yatim piatu, kan? Dia cocoknya di Fakultas biasa aja.”Tawa kecil terdengar. Pelan, tapi cukup tajam untuk menusuk.Dania menggenggam tali tasnya lebih erat. Ia berjalan lebih cepat, berpura-pura tak mendengar. Tapi setiap kata seolah menempel di punggungnya, berat, menyakitkan.Di kelas, ia duduk di bangku paling belakang. Tatapan-tatapan menyusup, ada yang penasaran, ada yang meremehkan, ada pula yang terang-terangan mencibir. Seorang mahasiswi di barisan depan menole
Terakhir Diperbarui : 2025-12-25 Baca selengkapnya