Langkah kaki menggema di lorong rumah tahanan itu. Sunyi, dingin, dan terasa begitu berat—seolah setiap langkah membawa beban kebenaran yang tak ingin dihadapi siapa pun.Arsenio berjalan paling depan. Wajahnya keras, rahangnya mengeras menahan emosi. Di belakangnya, Alexa menggenggam tangan Dania erat-erat. Jemarinya dingin, telapak tangannya basah oleh keringat cemas. Kelvin mengikuti dengan langkah tertahan, matanya terus bergerak, seolah mencari sesuatu yang tak kasatmata.Dan di ujung lorong itu… Ny. Eli duduk sendiri.Rambutnya kini tak lagi rapi. Wajahnya pucat, mata cekung, seperti seseorang yang telah menangis terlalu lama sampai tak tersisa air mata. Ketika pintu besi dibuka dan ia melihat mereka, tubuhnya menegang.“Dania…” suaranya bergetar. “Kamu datang…”Dania berhenti melangkah.Ada ribuan pertanyaan di dadanya, tapi lidahnya kelu. Ia menatap wanita yang selama ini dianggap ibu—yang membesarkannya, melindunginya—kini duduk di balik jeruji besi dengan status tersangka pe
Magbasa pa