Pagi pernikahan itu datang dengan sunyi yang khidmat—sunyi yang bukan kosong, melainkan penuh makna.Cahaya matahari menyusup pelan melalui jendela-jendela tinggi mansion, memantul di lantai marmer, seolah ikut menyiapkan diri untuk menyaksikan sebuah janji besar. Udara terasa hangat, lembut, dan penuh doa yang tak terucap.Alexa terbangun dengan napas yang sedikit bergetar.Untuk sesaat, ia lupa di mana ia berada. Lalu semuanya kembali—gaun putih, undangan yang telah tersebar, janji yang akan diikrarkan hari ini. Tangannya refleks menyentuh perutnya, merasakan kehidupan kecil yang menjadi saksi bisu dari semua perjalanan ini.Ny. Peni masuk pertama, membawa senyum yang tak bisa menyembunyikan air mata.“Selamat pagi, pengantin cantik,” katanya lirih.Di belakangnya, Ny. Eli, Dania, dan beberapa penata rias mengikuti. Ruangan segera dipenuhi aroma bunga dan suara langkah yang ditahan-tahan, seolah tak ingin mengganggu ketenangan Alexa.“Apa kamu siap?” tanya Dania, setengah berbisik.
Baca selengkapnya